Yang perlu kau lakukan adalah bersyukur.
Kenapa?
dengan bersyukur akan membuat hatimu tenang.
Saya adalah anak ke-8 dari 9 bersaudara. Ayah saya bukan seorang pegawai pemerintah ataupun perkantoran swasta. Beliau adalah seorang pedagang. Sedangkan ibu saya hanyalah seorang ibu rumah tangga.
Dari kecil saya tidak pernah berani mengungkapkan mimpi saya kepada teman-teman karna takut akan di tertawakan.
Saya dilahirkan di sebuah desa kecil di Provinsi Riau pada tahun 1992. Desa yang sangaaattt jauh dari provinsi, butuh 1,5 jam hingga 2 jam untuk sampai ke kabupaten kota menggunakan speed boat, lalu butuh 7 jam lagi untuk sampai ke provinsi dengan menggunakan mobil travel. Jadi, jangankan mau ke provinsi, ke kota pun merupakan impian yang sulit di wujudkan, karena kami bukanlah dari keluarga kaya. Di rumah kami tak memiliki listrik. Saat itu Bapak belum mampu mendaftarkan rumah kami ke PLTD, pembangkit listrik diesel yang ada di daerah kami. Setiap sore, kala hari mulai gelap, Bapak mulai memompa lampu semprong (ntah apa orang daerah lain atau dalam bahasa Indonesia nya... hehe). Di dekat rumah, kami sebenarnya menyambung listrik ke tetangga yang memiliki mesin diesel pribadi, tapi ia pun tidak menyalakan diesel itu setiap hari karena tidak mampu membeli bensin. Dieselnya hanya dinyalakan di moment tertentu, misalnya saat puasa pertama atau lebaran.
Jadi tentu bisa kalian bayangkan kalau di rumahpun saya tidak memiliki Televisi. Karena itu saya tidak memiliki kenangan dan pengetahuan banyak soal music dan artis zaman dahulu yang terkenal.
Saat kira-kira saya kelas 3 SD barulah kami mulai memiliki Televisi. Kakak perempuanku yang telah menikah dan tinggal di kota Batam (Kepulauan Riau)memberikan tv bekasnya. Saat itu kami semua sangat senang dan bangga, untuk pertama kalinya memiliki televisi karena kami tinggal di desa, jadi memang tidak semua orang memiliki televisi. Dan sebelum itupun ayah telah mampu mendaftarkan rumah kami ke PLTD. PLTD di desa kami mulai menyala dari jam 6 sore dan padam kembali di jam 6 pagi. Sungguh sangat membahagiakan, malam kami tidak perlu lagi bergelap - gelapan karena memiliki penerangan terbatas. Tidak hanya itu, siang haripun saya dan keluarga masih bisa menonton televisi, karena saudara kami yang baru pindah di seberang rumah kami setiap siang hari menyalakan diesel. Kami dapat sambungan listrik dan televisi gratis dari mereka. Saat itu bisa dibilang mereka adalah orang terkaya di desa kami. Saudaraku itu memiliki banyak pabrik kayu.
Saat kira-kira saya kelas 3 SD barulah kami mulai memiliki Televisi. Kakak perempuanku yang telah menikah dan tinggal di kota Batam (Kepulauan Riau)memberikan tv bekasnya. Saat itu kami semua sangat senang dan bangga, untuk pertama kalinya memiliki televisi karena kami tinggal di desa, jadi memang tidak semua orang memiliki televisi. Dan sebelum itupun ayah telah mampu mendaftarkan rumah kami ke PLTD. PLTD di desa kami mulai menyala dari jam 6 sore dan padam kembali di jam 6 pagi. Sungguh sangat membahagiakan, malam kami tidak perlu lagi bergelap - gelapan karena memiliki penerangan terbatas. Tidak hanya itu, siang haripun saya dan keluarga masih bisa menonton televisi, karena saudara kami yang baru pindah di seberang rumah kami setiap siang hari menyalakan diesel. Kami dapat sambungan listrik dan televisi gratis dari mereka. Saat itu bisa dibilang mereka adalah orang terkaya di desa kami. Saudaraku itu memiliki banyak pabrik kayu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar